Buku Diary "Perjalanan Ikhtiarku" menuju sadar baligh
Sebuah media habit tracker Islami yang dirancang untuk melatih keistiqomahan, membangun rutinitas kebaikan dan membentuk akhlak sesuai tugas perkembangan anak, usia 14 tahun sampai 21 tahun.
Sebuah media habit tracker Islami yang dirancang untuk melatih keistiqomahan, membangun rutinitas kebaikan dan membentuk akhlak sesuai tugas perkembangan anak, usia 14 tahun sampai 21 tahun.
Awal usia muda adalah usia awal anak mengalami perkembangan fisik sebab hormonal, pikiran, kemauan dan dorongan kejiwaan yang berkembang, sehingga ada kalanya anak kurang bisa mengendalikan diri, kurang bisa mengontrol kemauan juga keuangan. Dan usia ini adalah usia dimana anak harus berdaptasi dengan dorongan jiwanya yang bertransisi dari masa anak-anak ke masa awal muda. Pikirannya mulai peka dengan dunia luar yang banyak mempengaruhi pola berfikir sebelumnya. Merasa dirinya mulai besar hingga terkadang nasehat/pendapat orangtuanya diabaikan. Disisi lain usia ini masa memupuk masa depan yang lebih baik. Begitu pentingnya masa ini, sehingga Allah Ta'ala Ingatkan melalui RosulullNYA:
لاَ تَزُولُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ: عَنْ عُمُرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أَبْلَاهُ، وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ، وَمَاذَا عَمِلَ فِيْمَا عَلِمَ
“Tidak akan bergeser kaki manusia di hari kiamat dari sisi Rabbnya sehingga ditanya tentang lima hal: tentang umurnya dalam apa ia gunakan, tentang masa mudanya dalam apa ia habiskan, tentang hartanya darimana ia peroleh dan dalam apa ia belanjakan, dan tentang apa yang ia amalkan dari yang ia ketahui (ilmu).” HR. At-Tirmidzi
Saat ini pengaruh gadget merubah hampir sebagian besar cara anak muda melalui masanya. Penyerapan tayangan gadget membuat sifat baru, yaitu malas gerak, malas nulis, malas berfikir lebih, malas berjuang. Sisi negatif lain, emosi cepat reaktif, enggan instropeksi diri, tampak pengetahuan luas namun minim pemahaman dan penerapan. Kreasi Qurtuba melihat anak awal usia muda memerlukan buku Diary khusus yang menjembatani antara dorongan jiwanya dan arahan intrinsik dirinya. Buku ini kami namakan "Perjalanan Ikhtiarku" dengan topik kegiatan diary " menuju sadar baligh".
Serial yang tersedia
Metode: Mikat
Di Kreasi Qurtuba , kami tidak mengejar kepatuhan karena paksaan, tapi kami menggunakan metode MIKAT. Kami memikat rasa ingin tahu anak, memikat semangat kompetisi dengan dirinya sendiri, hingga akhirnya muncul dorongan mandiri untuk berbuat baik. Karena bagi kami, kesadaran yang terpikat akan bertahan lebih lama daripada tindakan yang diperintah."
Buku Diary Perjalanan Ikhtiarku ini juga menggunakan metode MIKAT yang memberikan ruang anak menumbuhkan motivasi intrinsiknya dengan mereka melaporkan diri sendiri melalui buku diarynya, mengendalikan diri secara mandiri dengan hak penuh memilih stiker tugas dirinya, mendapat apresiasi dari rasa ingin mencapai hasil yang maksimal dengan materi arahannya dan tumbuh berkelanjutan sebagai kebiasaan (istiqomah) dari satu buku yang berkisar selesai satu bulan, diharapkan ini menjadi nasehat intrinsik pada awal usia mudanya ini, sehingga menjadi filter diusia muda selanjutnya.
Bagaimana Caranya?, "Ini pakainya ribet nggak ya buat anak saya?". Ribet? yang pasti tidak, anak hanya butuh didukung dengan penanganan psikologis yang baik agar bisa istiqomah secara mandiri tanpa diperintah secara terus menerus (sering). Bukui Diary ini sudah dirancang dengan mudah namun teliti dan mendorong anak melakukan secara instrinsik. Jadi orangtua hanya perlu menyiapkan pola hubungan yang harmonis dengan anak.
Di masa pubertas, anak sering kali malas menulis diary karena dianggap melelahkan seperti tugas sekolah. Bangkitkan minatnya dengan 2 langkah santai ini:
Kurangi Beban & Bebaskan Berekspresi (Trik Taktis)
Bukan Ujian Sekolah: Bebaskan formatnya! Anak boleh menulis poin-poin singkat (bullet points), membuat mind-map, atau sekadar menggambar emoticon perasaannya hari itu.
Tumpahkan Saja (Brain Dump): Biarkan anak mencatat emosinya tanpa perlu memedulikan kerapian tulisan.
Jangan Dipaksa: Jika ia benar-benar lelah sepulang sekolah, biarkan istirahat agar aktivitas menulis ini tidak menjadi trauma yang menekan.
Bangun Kesadaran & Hargai Privasi (Motivasi)
Ingatkan Manfaatnya: Sampaikan bahwa menulis sangat membantu mengurai isi kepala yang kalut dan melatihnya menjadi pribadi yang lebih matang.
Cek Rutinitas, Bukan Isinya (Penting!): Pantau kedisiplinannya dengan meminta anak menunjukkan lembaran yang sudah diisi seminggu sekali. Ingat, jangan pernah membaca isinya! Hargai privasi mereka agar merasa aman berekspresi.
Apresiasi & Doa: Setiap melihat progresnya (walau hanya coretan pendek), berikan apresiasi, reward ringan, dan doakan "Barakallahu fiik" agar hatinya melembut.
Jika anak bingung harus mulai dari mana dan merasa tulisannya kaku, bantu mereka melancarkan ide dengan 3 langkah ringkas ini:
Pemanasan & Beri "Pancingan" Ide
Biasakan Membaca & Menyalin: Tempel slogan pendek di rumah secara bergantian, atau minta anak menyalin 1-2 kalimat dari buku kesukaannya untuk pemanasan.
Pertanyaan Pemantik: Jangan biarkan anak menatap kertas kosong. Beri pertanyaan ringan seperti, "Hari ini kejadian paling lucu di sekolah apa?" atau "Ada hal yang bikin Kakak kesal nggak?".
Mulai dari Hal yang Disukai: Di awal, mintalah anak menuliskan hal yang ia senangi terlebih dahulu, baru perlahan beralih ke hal yang tidak disukainya.
Pensiunkan Diri dari "Polisi Ejaan"
Biarkan anak menulis menggunakan bahasa gaul, bahasa sehari-hari, atau campuran bahasa daerah.
Jangan pernah mengkritik atau mencoret ejaan dan tata bahasanya agar tulisan anak bisa mengalir senatural mungkin.
Pantau Sekilas & Beri Doa
Tidak perlu dicek setiap hari. Cukup minta anak memperlihatkan diary-nya sekilas setiap 2 pekan sekali.
Iringi dengan apresiasi dan selalu doakan "Barakallahu fiik" setiap kali Ayah/Bunda memberikan reward.
Sering kali anak merasa ceritanya tidak penting, takut tulisannya ditertawakan, atau malu karena merasa tulisannya kurang bagus. Bangkitkan kepercayaannya dengan 3 langkah ringkas ini:
Berikan Garansi Privasi 100%
Beri jaminan bahwa buku diary ini tidak akan ada yang melihat kecuali dirinya sendiri.
Rasa aman adalah fondasi agar anak mau menulis jujur. Berikan janji dan buktikan bahwa Ayah & Bunda tidak akan pernah membaca diary tersebut tanpa izinnya.
Validasi Isi Pikirannya
Yakinkan bahwa diary adalah "ruang rahasia" antara dirinya dan Allah, dan tidak ada cerita yang dianggap "tidak penting" atau terlalu konyol.
Jelaskan bahwa menulis rutin akan membantunya melihat dirinya yang sebenarnya dan meningkatkan kepercayaan dirinya.
Sampaikan bahwa banyak tokoh besar Islam yang juga merutinkan menulis perjalanan hidup dan kesalahan mereka sebagai bahan evaluasi (muhasabah).
Apresiasi & Doa
Jika Ayah/Bunda sudah melihat anak mulai rajin menulis, segera berikan reward dan doakan "Barakallahu fiik".
Wajar jika buku diary anak hanya terisi di beberapa halaman pertama lalu dianggurkan pada minggu-minggu berikutnya. Kembalikan motivasinya dengan 4 langkah taktis ini:
Reminder Santai & Cari Tahu Penyebab
Cari tahu kenapa anak menjadi kendor menulis.
Ajak ngobrol santai dan ingatkan kembali asyiknya menulis, karena diary bisa menjadi "teman terdekat" yang menyimpan perasaannya.
Negosiasi Target (Jangan Wajibkan Tiap Hari)
Menulis setiap hari pada fase awal bisa terasa sangat berat bagi anak.
Jadilah penegosiasi yang baik. Turunkan targetnya melalui kesepakatan bersama, misalnya cukup mengisi 3 hari sekali, atau cukup sepekan sekali tiap malam Ahad.
Ciptakan Suasana Me-Time
Jadikan momen menulis diary ini sangat eksklusif dan nyaman.
Izinkan anak menyeduh minuman hangat, meredupkan lampu kamar, atau sambil memutar murottal dengan volume pelan sebelum ia tidur.
5. Apresiasi & Reward Bertahap
Jika anak berhasil rutin menulis lagi, berikan pujian spesifik atas konsistensinya.
Berikan reward ringan (seperti stiker piala) dan doakan "Barakallahu fiik" atas upayanya.
Ingatkan bahwa reward yang lebih besar tetap menunggunya jika ia bertahan hingga hitungan bulan.